ARTIKEL : HUBUNGAN PREEKLAMSIA DENGAN KEJADIAN BBLR DI RSU KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2018

 Nama : Sera Febrianti

NIM   : 10011281823071

Kelas  : Peminatan Epidemiologi 2018


(Source: id.pinterest.com)

Penulis Artikel : Astrisa Faadhillaha*, Heldab**


 * Prodi Pendidikan Sarjana dan Profesi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas  Muhammadiyah Tangerang, Indonesia
** Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Lantai 1 Gedung A, Kampus UI Depok, Indonesia


 ABSTRACT

Low birth weight is defined by the World Health Organization. as a weight at birth less than 2500 grams. Babies with low birth weight (LBW) have twice the risk for morbidity and mortality compared with babies born with a weight of 2500 grams or more. Low birth weight is a significant and globally sustainable public health problem associated with a series of short-term and long-term consequences. The main risk factors that associated with the high incidence of LBW are demographic factors, chronic illness before pregnancy, nutritional status of pregnant women, complications in pregnancy, and the status of antenatal care. This study was cross sectional study design and used cox regression analysis with the results of measuring was prevalence ratio (PR). The Result there was significant relationship between preeclampsia and LBW incidence with P-value = 0.001, PR value adjusted 1.483 (95% CI 1.192-1.846) after controlled by the Confounding variable. Confounding variables were pregnancy age, oligohydramnios, and IUFD with ÄPR> 10%. LBW incidence rates are associated with the treatment of severe preeclampsia and eclampsia that require active action, namely immediate termination of the pregnancy regardless of gestational age and estimated fetal body weight so that a baby with low birth weight can be born. Therefore, it is very necessary for monitoring by health workers on mothers who complications in pregnancy before, especially mother with high blood pressure in pregnancy so that it can be treated early, conservative care and LBW events can be prevented.

Key words: Infant, LBW, preeclampsia.

ABSTRAK

Berat badan lahir rendah didefinisikan oleh World Health Organization. sebagai berat saat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) meningkatkan angka kesakitan dan kematian dua kali lipat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan 2500 gram atau lebih. Berat lahir rendah menjadi masalah kesehatan masyarakat berkelanjutan secara signifikan dan global dikaitkan dengan serangkaian konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Faktor resiko utama yang berhubungan dengan tingginya kejadian BBLR adalah faktor demografi, penyakit kronis sebelum hamil, status gizi ibu hamil, komplikasi dalam kehamilan, dan status pemeriksaan kehamilan. Metode yang digunakan dalam  penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian ini menggunakan analisis cox regression dengan hasil ukur prevalence ratio (PR). Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan kejadian BBLR dengan P-value = 0,001 dengan nilai PR adjusted 1,483 (CI 95% 1,192-  1,846) setelah dikontrol oleh variabel Confounding. Variabel confounding adalah usia hamil, oligohidramnion, dan IUFD dengan nilai ÄPR >10%. Angka kejadian BBLR berhubungan dengan penanganan kasus preeklamsia dan eklamsia yang gawat memerlukan tindakan aktif, yaitu terminasi kehamilan segera tanpa memandang usia kehamilan dan perkiraan berat badan janin sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Oleh sebab itu, sangat diperlukan pemantauan oleh tenaga kesehatan terhadap ibu-ibu yang mengalami komplikasi dalam kehamilannya terutama yang memiliki tekanan darah yang tinggi dalam kehamilannya agar dapat ditangani secara dini dan dilakukan perawatan konservatif sehingga kejadian BBLR dapat dicegah.

Kata kunci : Preeklampsia, BBLR(Berat Badan Lahir Rendah).

Authors, Year

Title and Aim

Methodology

Finding 1

Finding 2

Finding 3

Note/Conclusion

Authors: Astrisa Faadhillaha, Heldab

Year : 2020

Judul : Hubungan Preeklamsia dengan Kejadian BBLR di RSU Kabupaten

Tangerang Tahun 2018

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara preeklamsia dengan kejadian BBLR di Rsu Kabupaten Tangerang Tahun 2018

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder RSU Kabupaten Tangerang dimulai pada bulan Mei-Juni 2019. Semua data yang diperoleh dijaga kerahasiaannya dikarenakan tidak menggunakan kode nama atau nomor identitas untuk menandai individu, melainkan dengan kode angka. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu melahirkan di RSU Kabupaten Tangerang tahun 2018. Teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling, yaitu seluruh ibu melahirkan di RSU Kabupaten Tangerang tahun 2018. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 1036 yang terbagi dalam kelompok terpajan sebanyak 242 responden dan kelompok tidak terpajan sebanyak 794 responden. Variabel yang diukur adalah berat bayi saat lahir, usia kehamilan saat ibu melahirkan, riwayat preeklamsia sebelum dan saat melahirkan, riwayat ketuban pecah dini saat melahirkan, riwayat oligohidramnion, hamil kembar, dan apakah janinnya mengalami IUGR. Pengolahan data menggunakan SPSS dan STATA dengan langkah screening, editing, coding, dan entry. Analisis data menggunakan uji statistik cox regression dengan hasil ukur prevalence ratio (PR).

Dari 1036 sampel penelitian, sebanyak 242 (23,4%) ibu yang melahirkan di RSU Kabupaten Tangerang yang mengalami preeklamsia dan melahirkan bayi BBLR sebanyak 364 (35,1%). Distribusi frekuensi variabel confounding diketahui ibu yang melahirkan pada usia kehamilan <37 minggu adalah 370 orang (35,7%).  Ketuban pecah dini adalah 170 (16,4%). Sedangkan ibu dengan oligohidramnion sebanyak 95 orang (9,2%). Subjek penelitian dengan status kehamilan gemeli sebanyak 39 orang (3,8%). Ibu yang mengalami IUGR sebanyak 17 orang (1,6%).

Hasil analisis bivariat antara BBLR sebagai variabel dependen dengan preeklamsia sebagai variabel independen dan juga BBLR dengan variabel confounding, yaitu preeklamsia memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR, hasil p value < 0,05 dan nilai PR 2,003 (CI 95% 1,715-2,340). Artinya ibu dengan preeklamsia beresiko 2,003 kali memiliki bayi BBLR. Sedangkan dilihat dari variabel lain yang memiliki hubungan dengan BBLR adalah usia kehamilan (PR 8,767 CI 95% 6,883-11,167), oligohidramnion (PR 1,725 CI 95% 1,747-4,114), kehamilan kembar (gemeli) (PR 2,979 CI 95% 2,689- 3,301), dan IUGR (PR 2,220 CI 95% 1,682-2,928).Variabel yang tidak  berhubungan dengan kejadian BBLR karena memiliki nilai p value > 0,05 adalah ketuban pecah dini.

 

Hasil analisis multivariat didapatkan bahwa preeklamsia berhubungan dengan kejadian BBLR dengan nilai p value 0,001 PR 1,497 (CI 95% 1,207-1,856).

Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya  preeklamsia yaitu usia hamil,  kehamilan gemeli, dan IUGR yang dapat menyebabkan BBLR. Dalam penelitian ini PR tidak ada yang >10% sehingga variabel yang didapatkan pada model akhir ini merupakan variabel yang secara substansi mempengaruhi kejadian BBLR walaupun secara statistik tidak dapat membuktikan sebagai confounding.

Penelitian ini menemukan hubungan yang signifikan antara preeklamsia dengan kejadian BBLR setelah dikontrol variabel confounding (usia kehamilan, ketuban pecah dini, oligohidramnion, kehamilan gemeli, dan IUGR). Pentingnya mencegah dimulai dari faktor resiko yang dapat menimbulkan BBLR diawali dengan pemantauan yang berkelanjutan selama masa kehamilan hingga melahirkan. Pencegahan BBLR dengan berbagai faktor resiko diharapkan dapat ditingkatkan mengingat buruknya efek jangka pendek maupun jangka panjang. Skrining pada ibu hamil yang memiliki potensi preeklamsia dipantau dan di terapi dengan baik sehingga memiliki efek minimal baik pada ibu maupun pada janinnya. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian berikutnya di Banten bahkan Indonesia dengan menyertakan variabel yang belum diteliti yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, gizi ibu, keberdayaan wanita, status perkawinan, jumlah kunjungan ANC, kualitas ANC, dan penggunaan KB.



Referensi :

Faadhilah, A., & Helda, H. 2020. Hubungan Preeklamsia dengan Kejadian BBLR di RSU Kabupaten Tangerang Tahun 2018. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia4(1).

http://journal.fkm.ui.ac.id/epid/article/view/3199

Komentar