ARTIKEL : HUBUNGAN STATUS PREEKLAMPSIA IBU HAMIL DAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA PALU SULAWESI TENGAH
Nama : Sera Febrianti
NIM : 10011281823071
Kelas : Peminatan Epidemiologi 2018
Penulis Artikel:
Putri Lili Heldawati*, Martha Irene Kartasury**, Sri Achadi Nugraheni**
*Dinas PP dan KB Donggala
**Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro
Abstract
One of the suspected risk factors of low birth weight (LBW) is pre-eclampsia. This study aimed to prove that the infant birth weight of the mothers with preeclampsia is lower than those of non preeclamptic.
This was analytical observational research with prospective cohort design. The subjects were 68 mothers, 34 of them had preeclampsia and 34 had no preeclampsia. Data collectied by interviews using structured questionnaires and secondary data from the hospital register for birth weight and birth length. Data analyzed using chi-square, Mann Whitney Test, Independent T-Test, and logistic regression.
The results showed that there was no difference in age, education, work status and income per month between the mothers with preeclampsia and non preeclampsia. There was no difference in pregnancy spacing, parity, disease during pregnancy, midupper arm circumference (MUAC) and Antenatal care frequency between mothers with preeclampsia and no preeclampsia. The baby’s weight of mothers who suffered from preeclampsia (2.650±469,1) gram, were lower than the mothers who had no preeclampsia (2.700±346,7) gram, with a p-value of 0.022. It is suggested the midwives to motivate pregnant women to have regular Antenatal Care for early detection and prevention of preeclampsia and low birth weight.
Keywords: birth weight, preeclampsia, pregnant women
Abstrak
Salah satu faktor risiko yang diduga sebagai penyebab berat badan lahir rendah (BBLR) adalah preeklamsia. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa berat lahir bayi dari ibu dengan preeklampsia lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak preeklampsia.
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain kohort prospektif. Subjek penelitian adalah 68 ibu, 34 diantaranya mengalami preeklamsia dan 34 tidak mengalami preeklamsia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan data sekunder dari register rumah sakit untuk berat lahir dan panjang lahir. Analisis data menggunakan chi-square, Mann Whitney Test, Independent T-Test, dan regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan umur, pendidikan, status pekerjaan dan pendapatan per bulan antara ibu dengan preeklampsia dan non preeklamsia. Tidak ada perbedaan jarak kehamilan, paritas, penyakit selama kehamilan, lingkar lengan atas (LILA) dan frekuensi antenatal care antara ibu dengan preeklamsia dan tidak preeklamsia. Berat badan bayi dari ibu yang mengalami preeklamsia (2.650±469,1) gram, lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami preeklamsia (2.700±346,7) gram, dengan p-value 0,022. Disarankan kepada bidan untuk memotivasi ibu hamil agar rutin melakukan Antenatal Care untuk deteksi dini dan pencegahan preeklamsia dan BBLR.
Kata kunci: berat badan lahir, preeklampsia, ibu hamil
|
Authors, Year |
Title and Aim |
Methodology |
Finding 1 |
Finding 2 |
Finding 3 |
Note/Conclusion |
|
Authors
: Putri Lili Heldawati, Martha Irene Kartasury, Sri
Achadi Nugraheni. Year:
2018 |
Judul
: Hubungan
Status Preeklampsia Ibu Hamil dan Berat Badan Lahir Bayi di
Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Sulawesi Tengah Penelitian
ini bertujuan untuk membuktikan bahwa berat lahir bayi dari ibu dengan preeklampsia
lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak preeklampsia |
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik, dengan desain kohort retroprospektif. Studi ini mempelajari sekelompok orang yang terpapar preeklampsia dan sekelompok orang yang tidak terpapar preeklampsia dengan cara mengamati berat badan lahir bayi normal (BBLN) dan berat badan lahir rendah (BBLR) dari ibu penderita preeklampsia dan ibu non preeklampsia selama empat bulan. Variabel
terikat (dependent) adalah berat badan lahir bayi (BBL Bayi). Pada variabel
bebas (Independent) adalah preeklampsia dan non preeklampsia. Pada variabel
perancu dalam penelitian ini terdiri dari: umur ibu, jarak kehamilan,
paritas, status gizi ibu berdasarkan LLA, penyakit saat hamil dan pemeriksaan
ANC. |
Pada
penelitian ini rata-rata berat badan lahir bayi ibu penderita preeklampsia
lebih rendah dibanding berat badan bayi ibu non preeklampsia dengan berat
badan lahir terendah 2100 gram dan tertinggi 4200 gram. Sedangkan pada ibu
non preeklampsia memiliki rata-rata berat badan lahir bayi terendah 2300 gram
dan tertinggi 3600 gram. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil statistik
didapatkan p-value 0,022 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan ada perbedaan
yang bermakna antara berat badan lahir bayi dari ibu penderita preeklampsia
dan berat badan lahir bayi dari ibu non preeklampsia. |
Hasil
uji Chi-square pada hubungan antara LLA ibu dengan berat badan lahir tidak
ditemukan adanya hubungan (p= 0,113). Hal ini menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang bermakna antara LLA < 23,5 cm dan LLA ibu > 23,5 cm
dengan berat badan lahir bayi. Sedanglan, hasil uji chi-squre pada hubungan
antara penyakit saat hamil dan berat badan lahir tidak ditemukan adanya
hubungan (p= 0,675). Sebagian besar ibu yang tidak mempunyai penyakit saat
hamil melahirkan bayi dengan berat badan lahir < 2500 gram sebesar 35,9%.
Pada ibu dengan penyakit lain saat hamil melahirkan bayi dengan berat badan
lahir ≥ 2500 gram sebesar 69,0%. Hasil uji chi-squre pada hubungan antara
penyakit saat hamil dan berat badan lahir tidak ditemukan adanya hubungan (p=
0,675). Lalu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pemeriksaan ANC < 4 kali lebih banyak melahirkan bayi dengan berat badan
lahir (BBL) > 2500 gram sebesar 52,5%. Pada ibu dengan pemeriksaan ANC ≥ 4
kali paling sedikit melahirkan bayi dengan berat badan lahir < 2500 gram
sebesar 20%. Hasil uji chi-squre pada hubungan pemeriksaan ANC dan BBL Bayi
ditemukan adanya hubungan (p= 0,013). |
Hasil
analisis regresi logistik menunjukkan ibu preeklampsia mempunyai kemungkinan
melahirkan bayi BBLR 4,3 kali lebih besar daripada ibu non preeklampsia
(p=0,013). |
Setelah
dikontrol dengan (LLA) ibu penderita preeklampsia mempunyai kemungkinan
melahirkan bayi BBLR 4,3 kali lebih besar daripada ibu non preeklampsia
(p=0,013). Bidan memberikan motivasi kepada ibu hamil untuk melakukan
pemeriksaan kehamilan secara rutin agar dapat mendeteksi secara dini preeklampsia
dan pencegahan BBLR. Diadakan penelitian lanjutan dengan mengambil variabel
jarak hamil ibu yang pertama kali melahirkan, sehingga dapat mengetahui
secara pasti hubungannya dengan berat badan lahir bayi. |
Komentar
Posting Komentar